Pilih bahasa yang di inginkan:- BAHASA MELAYU

Saturday, October 3, 2020

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 4)


Meriam lama di Pulau Penyengat
UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU..... Sambungan dari Bahagian 3....

Pasal tiga.
Pada menyatakan tokong pulau dan teluk rantau di dalam jajahan Riau dan Lingga dan asalnya siapa yang memiliki dan siapa yang punya.

Bermula adalah Johor dan Pahang Riau dan Lingga adalah masa dahulunya tiada seorang Raja dan tiada seorang Menteri yang memiliki tetapi adalah orang yang diam pada pihak Riau dan Bintan dan Lingga adalah segala jajahannya masing masing ada dengan kepalanya. Adalah isinya daripada pihak rakyat rakyat. Dan daripada pihak sebelah daratan seperti Pahang dan Melaka dan segala isinya orang hutan bangsanya Pangan. Dan adalah Bintan pada masa itu kepalanya seorang perempuan namanya Tun Seri Binai maka ialah yang mengambil Raja yang datang dari Bukit Siguntang nama nya Seri Teri Buana, maka ialah yang menjadi Raja di Bintan maka turun temurun dari Seri Teri Buana inilah asal Raja Melayu melarat sampai ke Singapura dan sampai ke Melaka, maka anak cucu dialah yang dialahkan oleh Aceh dan Jawa sampai ikan todak pun melanggar juga pada ceritanya. Demikianlah kisahnya hingga sampai pada zaman Sultan Abdul Jalil yang mangkat di Kuala Pahang dialahkan oleh Raja Kecik yang tersebut pada pasal yang pertama. Pada masa inilah dialahkan oleh Raja Bugis pula lalu menjadi Raja Muda didalam Riau seperti yang tersebut pada pasal yang pertama dahulu itu. Maka jikalau hendak tahu perjalanan Raja Melayu dengan Raja Bugis hendaklah engkau lihat pada Tawarikh Al Kubra dan Tawarikh Al Wusta akan tetapi adalah kami hendak menyatakan barang yang mustahik bagi tanah tanah bagi siapa yang mustahik ini maka tiadalah kami panjangkan maka tiliklah pada kitab yang dua itu.

Syahdan maka Raja yang ketiga itu lain daripada Yang DiPertuan Besar maka masing masing dengan kuasanya serta pemerintahannya. Dan adalah Raja yang ketiga itu barang di mana mana ia duduk pada tempat itulah yang punya kuasa sendirinya dan punya perintah serta dengan takluk daerahnya tiadalah boleh Yang DiPertuan Besar ambil kuasanya itu diganti dengan orang lain adalah muhhal al syahidnya seperti umpamanya Bendahara Pahang maka ialah yang mentadbirkan Pahang dan dialah sendiri berbuat nazam peraturan negerinya membuat segala pegawai dan orang besar besarnya. Dan demikianlah Temenggung dimana mana tempat yang dihidupkannya adalah kuasanya itu kepadanya mentadbirkan daripada perintah dan hasilnya.

Demikianlah Yang DiPertuan Muda Riau maka adalah ia kuasa memerintahkan daripada segala pekerjaan Yang DiPertuan Besar dengan segala daerah takluknya. Adalah tahta Kerajaan Negeri Riau dengan segala daerah takluknya adalah sebab demikian itu yaitu menduduki pesaka yang telah dahulu dahulu.
Maka adalah ia menerima pesaka itu beberapa kali. Sekali ia menerima daripada Marhum Sulaiman, kedua kalinya ia menerima daripada Marhum Sulaiman juga demikian juga yang ketiga kali nya pula ia menerima daripada Marhum Sulaiman jua, yaitu Marhum Kelana Jaya Putera dan Marhum Mangkat DiKota dan Marhum Janggut dan keempat kalinya ia menerima dengan kemufakatan isi negeri serta Bendahara Pahang yaitu Marhum Teluk Ketapang yang menerima dan kelima kalinya menerima pesaka daripada Marhum Mahmud yaitu Yang DiPertuan Muda Raja Ali yang dinamai Marhum Pulau Bayan dan keenam kalinya Yang DiPertuan Muda itu menerima pesakanya itu daripada Marhum Mahmud tatkala lepas daripada diserahkan Holanda dan Inggris akan Riau kepada Sultan Mahmud maka Sultan Mahmud pun menyuruh mengambil Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar di Kelang serta sampai maka dipulangkanlah pesakanya dan ketujuh kalinya, menerima pesakanya daripada Sultan Muhammad yaitu lah Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman. Adalah ia menerima pesakanya dengan Sultan Muhammad itu dengan sumpah setianya seperti adat istiadat lama jua dan yang kedelapan kalinya Yang diPertuan Muda Riau menerima pesakanya itu daripada Sultan Mahmud serta Gubernur Jenderal Betawi serta dengan segala anak Raja Raja kaum kerabatnya menaruh tanda tangan sekaliannya yaitu Yang DiPertuan Muda Raja Ali adanya.
Inilah segala Raja Raja yang tersebut itu memiliki negeri maka hal keadaannya bersekutu dengan Raja Melayu pada nama Kerajaan.

Sebermula adapun akan teluk rantau tokong pulau itu maka yaitu kami mula ceritanya itu daripada sebelah Pulau Perca yaitu seperti Reteh dan Batin Enam Suku. Adalah asalnya yang punya tempat itu Raja Minangkabau yaitu Raja Hijau kemudian diambilnya dengan perang daripada Siantan Inderagiri. Adalah Raja Hijau itu empat Raja Raja sertanya, pertama Raja Hijau, kedua Raja Metiak, ketiga Raja Lais dan keempat Raja Bayang. Kemudian dipukul dan diperangi oleh Yang DiPertuan Muda Raja Haji dan dialahkannya sekali. Jadi dimilikinya lah hingga sampailah kepada anak cucunya sekarang ini. Adapun Dani ada seorang kepalanya yang menggelarkan dirinya Datuk Malaikat bangsa Minangkabau. Maka adalah takluknya daerahnya hingga sampai Karimun dan Buru dan Kundur dan Ungar. Maka dipukul juga oleh Raja Haji itu alah pula tempat itu jadi miliklah hingga sampai anak cucunya. Kemudian lagi daripada itu tatkala sudah Inggeris membataskan pulau pulau yang disebelah Johor dan disebelah Riau maka dipukul pulak oleh Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar putera Marhum Raja Haji bersama sama Gubermen Holanda membantunya alah pulak Karimun itu maka setelah asal daripada alah itu maka diganti belanja pulak oleh Marhum Raja Jaafar dengan segala Menteri Menterinya maka adalah yang masuk daerahnya itu Karimun Ungaran dan Buru dan Pulau Terung hingga Taman. Inilah adanya.

Adapun tentang pulau pulau yang tujuh itu adalah asalnya yang punya itu Raja Jawa. Pada masa dahulu kalanya maka diberikan kepada Raja Melaka. Kemudian hingga turun temurunlah sampai kepada Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, maka dipukul pulak oleh Raja Alam anak Raja Kecik maka dapatlah ketangan nya, maka dipukul pula oleh Marhum Sultan Sulaiman tetapi tiada dapat dikalahkannya, maka baliklah ia ke Riau mintak dipukulkan sekali lagi kepada Yang DiPertuan Muda Marhum Janggut serta segala pertikaman yang diambil di Selangor orang baik baik banyaknya lima ratus orang lalulah alah maka dipesakailah kepada Yang Dipertuan Muda perintah itu hingga sampai sekarang ini.

(Bersambung ke Bahagian 5)...

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 3)

UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU..... Sambungan dari Bahagian 2....

Pasal dua.
Pada menyatakan adat istiadat Raja Raja Melayu yang menyalahi setengah daripada adat Raja Raja yang di atas angin.

Bermula adalah adat istiadat Raja di negeri Melayu yang menyalahi Raja Raja diatas angin itu yaitu pada empat tempat. Pertama tama pada sumpah setianya, kedua pada aturan Menteri nya, ketiga pada bahasa yang dibahasakan kepada Yang DiPertuan Besar, keempat pada menzahirkan gelarnya.

Bermula surah yang pertama yakni pada pekerjaan sumpah setianya. Maka yaitu adalah pada tiap tiap Raja Melayu itu memperbuat perjanjian sumpah setia atas Kerajaan atau Undang Undang yang diperpegang maka yaitu turun temurun hingga sampai kepada anak cucunya, barangsiapa yang mungkar anak cucu cicitnya tiadalah selamat duania akhirat, masing menaruh cap tanda tangan. Maka tatkala lagi mengantikan naik Kerajaan daripada anak cucunya maka diperbaharui lah sumpah setia itu. Demikianlah istilahnya adanya.
Bermula surah yang kedua yakni pada aturan Menteri nya, maka yaitu bersalahan dengan setengah daripada Raja Raja yang atas angin yaitu adalah ia tiap tiap menggantikan Menterinya tiada dengan naik derajat sedikit sedikit bertangga tangga seperti kebanyakan aturan Menteri Raja Raja yang diatas angin itu daripada pangkat di bawah naik bertangga tangga sedikit sedikit kemudian baharu jadi besar sekali. Maka adat Raja Melayu tidak begitu. Maka adalah aturan Raja Melayu: Temenggung dan Bendahara apalagi Raja Muda maka yaitu apabila ada asalnya maka dijadikanlah atas yang patut pada isi negeri maka digelar orang yang tiga ini kain kafan buruk tiada berganti lagi artinya tiada boleh di pecat pecat dan dimakzulkan sekali kali melainkan jikalau gila atau keluar daripada agama Islam yaitu boleh diganti dengan muafakat segala isi negeri dan jikalau ia zalim maka yaitu atas segala bicara isi negeri pada menolakkan zalimnya itu dan dimakzulkan tiada juga boleh.

Bermula surah yang ketiga, hendak menjadikan pangkatnya itu hendaklah dengan asalnya dan tiada boleh yang bukan asalnya daripada Menteri Menteri yang kecil kecil hendak menjadi orang bertiga itu jikalau sebagaimana sekali besar jasanya tiadalah ia boleh menjadi yang berempat itu yaitu Yang DiPertuan Besar dan Yang DiPertuan Muda dan Bendahara dan Temenggung. Dan tiada pula boleh bernikah kahwin yang lain daripada keturunan Raja yang berempat itu, maka adalah keempat Raja itu boleh berkahwin setengah atas setengahnya kerabat atau anak cucunya maka tiadalah boleh seperti anak anak Menteri yang lain yang dibawah Raja yang berempat itu mengahwani anak Raja yang berempat itu inilah adat istiadatnya.

Bermula surah yang keempat yakni pada pekerjaan menzahirkan gelarnya dan lantiknya. Bermula adalah menzahirkan gelaran maka yaitu tiada tentu daripada Yang DiPertuan Besar semata mata, akan tetapi boleh daripada setengah daripada Raja Raja yang berempat itu menzahirkan gelarannya dan lantiknya setengah akan setengahnya adalah muhas al syahidnya.

Apabila salah seorang daripada Raja yang berempat itu yang patut menerima pesakanya maka diangkatnyalah setengah daripada setengahnya. Adapun seperti Marhum Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah itulah pertama tama Raja Melayu mula mula diangkat oleh Yang DiPertuan Muda asalnya Raja Bugis. Demikian lagi Sultan Mahmud diangkat digelar oleh Yang DiPertuan Muda Marhum Janggut di Riau. Dan lagi Marhum Sultan Abdul Rahman digelar diangkat dijadikan Raja oleh Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar maka dilantik sekali lagi di Riau oleh Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar serta dengan seorang wakil dari Gubernur Jenderal Betawi yang bernama Schoutbijnacht yaitu Raja Laut. Demikian lagi puteranya Sultan Muhammad dinaikkan Raja oleh segala orang orang serta anak Raja Raja sekelian adanya. Demikian lagi Yang DiPertuan Besar Sultan Mahmud Muzaffar Syah ini dilantik oleh ayahandanya serta dengan Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman serta dengan Bendahara Tun Ali. Inilah hal Yang DiPertuan Besar.

Adapun Yang DiPertuan Muda pertama tama Yang DiPertuan Muda Daeng Merewah yaitu Kelana Jaya Putera maka dilantik oleh Marhum Sulaiman didalam Riau. Demikian lagi Marhum Mangkat Di Kota dilantik diRiau juga. Adapun Marhum Janggut dilantik digelar di Selangor. Dan Marhum Yang DiPertuan Muda Raja Haji yaitu yang mangkat di Teluk Ketapang yang bergelar Pengeran Suta Wijaya maka dilantik dan dizahirkan namanya di negeri Pahang tatkala ia balik dari perang mengalahkan negeri Sanggau dan Mempawah. Dan Marhum Yang DiPertuan Muda Raja Ali dilantik digelar dengan mufakat segala anak Raja Raja dan orang banyak. Dan Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar disuruh ambil oleh Sultan Mahmud dari Selangor ke Lingga dipulangkan pesakanya yaitu diserahkan Riau dan Lingga dengan segala daerah takluknya menjadi Yang DiPertuan Muda seperti adat istiadatnya yang telah lalu. Kemudian Marhum Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman dijadikan Yang DiPertuan Muda digelar di Lingga maka pada masa Marhum inilah menetapkan sumpah setia yang lama dengan Sultan Mahmud Muzaffar Syah didalam negeri Lingga bersumpah setia dengan Al Quran Al Azim. Adalah sumpah setia dan perjanjian itu didalam Tawarikh Al Wusta yang ada didalam tangan Yang DiPertuan Muda Raja Ali yaitu saudara Marhum Abdul Rahman.
Maka Yang DiPertuan Muda Raja Ali diangkat dilantik di Lingga dijadikan Raja didalam Riau serta dengan daerah takluknya dengan pemilihan Gubernur Jenderal serta Sultan Mahmud Muzaffar Syah serta dengan ba’it segala anak Raja masing masing tiap tiap seorang menaruh tandatangan yang menyukakan Raja Ali jadi Yang DiPertuan Muda Riau. Maka dipulangkan pesakanya memerintahkan Lingga dan Riau serta daerah takluknya sekalian.

Maka inilah hah ehwal aturan antara Yang DiPertuan Besar dengan Yang DiPertuan Muda adanya.

(Bersambung ke Bahagian 4)...

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 2)


Makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat
UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU (adalah bahagian Dari Undang Undang Tubuh atau Perlembagaan Kerajaan Riau Lingga yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Penasihat Kerajaan pada tahun Hijrah 1221 bersama tahun Masihi 1806). Sambungan dari Bahagian 1....

Bermula adapun Marhum Jaafar maka beranakkan Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman dan Yang DiPertuan Muda Raja Ali yang lainnya daripada itu beberapa puteranya laki laki dan perempuan maka tiadalah kami sebutkan disini kerana hendak mengambil sempena.

Bermula adalah Raja Maimunah puteri Arung Parani dengan Tengku Tengah maka bersuamikan Temenggung Johor dan adalah Daeng Kecik beranakkan Temenggung Abdul Rahman dan Temenggung Abdul Rahman beranakkan Temenggung Selat yang sekarang di Teluk Belanga.

Bahawa inilah segala Raja Raja Melayu yang sudah bercampur baur dengan Raja Bugis. Adapun salasilah Raja Melayu daripada sebelah bapanya sahaja yang diambil daripada masa alah Riau, tatkala sudah dibantu Raja Bugis yaitu Marhum Abdul Jalil beranakkan Marhum Sulaiman dan Marhum Sulaiman beranakkan Marhum Abdul Jalil suami Tengku Putih anak Marhum Arung Pali digelar orang sekarang ini Marhum Mangkat di Kota. Maka Marhum Abdul Jalil ini tiada sempat menjadi Raja ialah beranakkan Marhum Sultan Mahmud dan Marhum Sultan Mahmud beranakkan Sultan Abdul Rahman dan Sultan Abdul Rahman beranakkan Sultan Muhammad dan Sultan Muhammad beranakkan Sultan Mahmud yang maujud pada tarikh surat ini.

Bermula adalah Bendahara Johor daripada masa alah Riau oleh Siak itu hingga pada masa tarikh surat ini yaitu pertama tama, Tun Abas kedua Tun Abdul Majid ketiga Tun Koris keempat Tun Ali kelima Tun Muhammad Tahir yang maujud pada tarikh surat ini. Adalah suku suku Bendahara ini tiada berkerabat dengan Raja Bugis akan tetapi ada ia satu asal dengan Raja Johor yaitu saudara yang tua kepada Marhum Abdul Jalil yang mangkat di Kuala Pahang adanya.

Syahdan kembali pula kami menyatakan peraturan pada Raja Raja yang menjadi Yang DiPertuan Muda Riau. Adalah yang mula mula awal menjadi Yang DiPertuan Muda Riau yaitu Kelana Jaya Putera. Maka setelah selesainya pada menjadi Yang DiPertuan Muda maka membuatlah Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan Sultan Alauddin Ibni Opu akan suatu perjanjian sumpah setia sampai turun temurun kepada anak cucu cicitnya seperti yang tersebut surat surat sumpah setia yaitu memulangkan perintah negeri Johor dan Pahang dengan segala daerah takluknya Riau dan Lingga dengan segala daerah takluknya teluk rantau, tokong pulau, rakyat sekalian kepada Yang DiPertuan Muda dengan sumpah setia menaruh cap tandatangan sebelah menyebelah maka diperpegang setia ini.

Syahadan apabila mangkat Sultan Alauddin Syah Ibni Opu maka digantikan oleh saudaranya yang muda bernama Arung Pali maka bergelar Yang DiPertuan Muda Sultan Alauddin juga maka telah dibaru barui pulak sumpah setia lama itu. Kemudian maka mangkat pula Yang DiPertuan Arung Pali itu yang disebut juga Marhum yang Mangkat Dikota. Maka digantikan pula akan dia oleh anak saudaranya yaitu Daeng Kemboja yang nama gelarnya Marhum Janggut itu.

Maka setelah mangkat pula Marhum Janggut itu maka telah digantikan pula dengan sepupunya yang bernama Raja Haji yaitu putera Marhum Mangkat di Kota. Maka Yang DiPertuan Muda inilah yang mengalahkan negeri Kedah dan Perak dan Inderagiri dan Retih dan Dani yaitu batin enam suku yang syahid berperang dengan Holanda di Melaka.

Setelah mangkat Marhum itu maka digantikan pula oleh anak saudara sepupunya yang bernama Raja Ali maka bergelar Sultan Alauddin Syah juga. Maka apabila mangkat Yang DiPertuan Muda Raja Ali maka digantikan pula oleh saudara dua pupunya yang bernama Raja Jaafar maka Marhum Raja Jaafar inilah serta Tengku Besar yang membuat perjanjian kontrak dengan Gubermen Holanda yaitu pada masa Jendral Betawi yang bernama Baron Van Der Capellen.

Maka apabila mangkat Marhum ini maka digantikan pula oleh puteranya yang bernama Raja Abdul Rahman. Maka telah mangkat Marhum Abdul Rahman maka digantikan pula oleh saudaranya yang bernama Raja Ali dengan kesukaan Yang DiPertuan Lingga serta Gubermen Holanda serta ba’at oleh segala isi negeri daripada segala anak Raja Raja orang baik baik sekalian adanya.

Maka adalah tarikh awalnya segala Raja Raja yang tersebut ini adalah pada suatu kitab bernama Tawarikh Al Wusta yang ada maujud pada masa ini didalam tangan Yang DiPertuan Muda Riau.

Adalah Yang DiPertuan Besar itu lima orang pertama tama Almarhum Sulaiman kedua Almarhum Mahmud yaitu Putera Raja Abdul Jalil ketiga Marhum Sultan Abdul Rahman keempat Marhum Muhammad kelima Yang Dipertuan Lingga Sultan Mahmud Muzaffar Syah.

Adapun Bendahara nya bernama Tun Abas Sri Maharaja dan kedua Tun Abdul Majid ketiga Tun Koris keempat Tun Ali kelima Tun Muhammad Tahir.

Adapun Temenggungnya Seri Maharaja yaitu suami Raja Maimunah saudara Almarhum Janggut yaitu Daeng Perani anak Opu kedua Temenggung Abdul Rahman anak Daeng Kecik anak Raja Maimunah ketiga Temenggung Ibrahim anak Temenggung Abdul Rahman

Yang tersebut itu adalah segala ehwalnya segala Raja Raja itu adalah sejarah yang tersebut tadi adanya.

(Bersambung ke Bahagian 3)...

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 1)

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat

UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU
1. Asal Usul Raja Melayu Riau-Lingga-Johor dan Pahang.
2. Adat Istiadat Raja Raja Riau-Lingga-Johor dan Pahang.
3. Jajahan dan daerah takluk nya.
4. Bahasa Istana.
5. Wakil Mutlak.

Tahun Hijrah 1221. (Tahun 1806 M).

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Bahawa sesungguhnya inilah suatu yang diperpegang pada masa ini oleh Raja Raja yang dikeluarkan daripada Sejarah Melayu yang bernama Tawarikh Al Wusta yang diperbuat antara Raja Melayu dengan Raja Bugis yakni Yang DiPertuan Besar dengan Yang Dipertuan Muda yang dimukhtasarkan di sini kerana hendak mengambil sempena yang telah di mufawidkan yang amat teguh. Maka didalam nya beberapa pasal.

Pasal yang pertama pada menyatakan asal Yang DiPertuan Besar dan Yang DiPertuan Muda dengan Bendahara dan Temenggung.

Pasal yang kedua pada menyatakan adat istiadat Raja Melayu dan istilahnya yang menyalahi adat Raja di atas angin adanya.

Pasal yang ketiga pada menyatakan segala tokong pulau pulau siapa yang punya milik, dengan jalan apa dimiliki oleh Raja itu dan pada masa mana dan bagaimana maka menjadi milik kepada Raja itu.

Pasal yang keempat pada menyatakan bahawa Raja Raja yang diperbahasakan dan adat nobat dan semberap jawatan adanya.

Pasal yang kelima pada menyatakan makna wakil yang tersebut didalam kontrak perjanjian dengan Holanda.
Maka inilah kami nyatakan dibawah ini adanya.

Pasal satu.
Pada menyatakan asal Raja Melayu yang mukhtasar yang diambil daripada Marhum Abdul Jalil yang mangkat di Kuala Pahang pada Hijrah seribu seratus dua puloh Sembilan tahun 1129. Mangkatnya itu sebab terbunuh berperang dengan Raja Kecik Siak. Menjadi Raja Keciklah Kerajaan di Riau dengan daerah takluknya pada Hijrah seribu seratus tiga puloh tiga tahun 1133. Pada masa itulah Putera Putera Marhum Abdul Jalil dibawa oleh Laksemana Nakhoda Sekam ke Riau kepada Raja Kecik seorang bernama Raja Sulaiman dan seorang bernama Raja Abdul Rahman dan perempuan nya lima orang maka dibuat oleh Raja Kecik penjawat membawa tepaknya dan lain lain.

Di dalam hal itu maka datanglah Raja Bugis bernama Kelana Jaya Putera nama batang tubuhnya Daeng Merewah dan serta segala saudaranya yaitu segala anak anak Opu Tandri Daeng Rilaga dan adalah datangnya sebab dijemput oleh Raja Melayu minta bantu minta tolong pukulkan Raja Kecik itu. Maka dipukulnya dengan segala takluk daerahnya maka alahlah Riau itu maka Raja Kecik pun larilah ke Siak dan dapatlah negeri Riau dengan takluk daerahnya ke tangan Raja Bugis yang bernama Kelana Jaya Putera itu yaitu pada Hijrah seribu seratus tiga puloh empat tahun 1134. Kemudian diangkatlah oleh Kelana Jaya Putera itu akan Raja Sulaiman itu digelarnya Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Didalam pada itu minta pula Sultan Sulaiman kepada Kelana Jaya Putera itu hendak dijadikannya saudaranya dunia akhirat yang tiada boleh bercerai cerai selama lamanya. Maka dikabulkan oleh Kelana Jaya Putera permintaan Sultan Sulaiman itu di gelarnya pula Sultan Sulaiman akan Kelana Jaya Putera itu Yang DiPertuan Muda Sultan Alauddin Syah Ibni Opu.

Maka ada pula saudara Kelana itu bernama Opu Daeng Celak di sebelah Barat di panggil orang Arung Pali. Maka dikahwinkan pula dengan saudaranya yang bernama Tengku Mandak gelarnya Tengku Puan dan seorang lagi saudara Kelana Jaya Putera iaitu Opu Arung Parani dikahwinkan pula oleh Sultan Sulaiman dengan saudaranya bernama Tengku Tengah. Maka Tengku Tengah beranakkan Raja Maimunah. Adapun Tengku Mandak itu beranakkan Tengku Hitam dan Tengku Putih dan Tengku Putih itu beranakkan Marhum Mahmud dan Marhum Mahmud itu beranakkan Sultan Abdul Rahman Lingga dan Sultan Husin Selat dan Sultan Abdul Rahman itu beranakkan Sultan Muhammad dan Sultan Muhammad beranakkan Sultan Mahmud yang ada pada tarikh membuat surat ini. Dan ada lagi putera Arung Pali dua orang laki laki yang seorang nama nya Raja Haji yaitu Marhum Mangkat di Teluk Ketapang dan seorang lagi bernama Raja Salih yaitu yang menjadi Yang DiPertuan Selangor dan dua orang perempuan lagi Raja Halimah dan Raja Aminah.
Syahadan adalah Yang DiPertuan Raja Haji itu beranakkan Marhum Jaafar dan Raja Idris dan Raja Ahmad dan yang lain daripada itu perempuan semuanya yaitu Engku Puteri dan Engku Besar dan Raja Buntit dan Engku Selangor dan Raja Pasir dan Raja Aminah dan Engku Teluk.

(Bersambung ke Bahagian 2)...

UNDANG UNDANG LIMA PASAL RIAU

UNDANG UNDANG LIMA PASAL RIAU yang di pos kan ini adalah bahagian Dari Undang Undang Tubuh atau Perlembagaan Kerajaan Riau Lingga yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Penasihat Kerajaan pada tahun Hijrah 1221 bersama tahun Masihi 1806.

Selain menulis UNDANG UNDANG LIMA PASAL RIAU yang merupakan sebahagian Dari Undang Undang Tubuh atau Perlembagaan Kerajaan Riau Lingga yang ditulis tahun Hijrah 1221 bersama tahun Masihi 1806 dan juga lain lain kitab, Raja Ali Haji juga telah menyambung tulisan kitab Tuhfat Al-Nafis (Hadiah yang istemewa) iaitu mengenai Sejarah Kerajaan Riau Lingga yang dimulakan oleh ayahanda nya, Raja Haji Ahmad Ibni Yang DiPertuan Muda Raja Haji. Kitab Tuhfat Al-Nafis yang asalnya ditulis didalam tulisan Jawi itu kemudian nya di cetak dalam tulisan Rumi setelah penerbit buku ini iaitu Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dan editor buku ini iaitu Virginia Matherson membuat projek perubahan tulisan daripada Jawi ke Rumi pada sekitar tahun 1980an kerana permintaan buku buku tulisan Rumi telah menjadi keutamaan.

Saturday, September 19, 2020

Raja Ali Haji - Sastrawan Kerajaan Riau Lingga

Raja Ali Haji (RAH) dilahirkan di Pulau Penyengat (sekarang masuk wilayah Kepulauan Riau, Indonesia) pada tahun 1808 dari ayah bernama Raja Ahmad (bergelar Engku Haji Tua) dan seorang ibu bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Raja Ali Haji adalah cucu dari Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau Ke-IV dari Kerajaan Riau-Lingga dan merupakan keturunan bangsawan Bugis. Raja Ali Haji memiliki beberapa saudara laki-laki dan perempuan dari ayah yang sama, yaitu Raja Haji Daud (sulung), Raja Endut alias Raja Umar, Raja Salehah, Raja Cik, Raja Aisyah, Raja Abdullah, Raja Ishak, Raja Muhammad, Raja Abu Bakar, dan Raja Siti (bungsu). Keluarga Raja Ahmad ini termasuk orang-orang yang gemar menulis. Sebagai sastrawan, Raja Ahmad pernah menghasilkan setidaknya tiga buah karya yaitu Syair Engku Putri, Syair Perang Johor dan Syair Raksi. Darah sastrawan yang ada pada diri Raja Ahmad tersebut tumbuh dan berkembang lebih besar pada diri Raja Ali Haji.

Sejak kanak-kanak, Raja Ali Haji mendapat pendidikan di lingkungan istana kerajaan Penyengat dari para ulama yang datang dari berbagai negeri untuk mengajarkan Islam. Untuk menambah wawasan, Raja Ali Haji seringkali mengikuti perjalanan ayahnya ke berbagai daerah untuk berdagang, termasuk perjalanan pergi haji. Tahun 1822 ia bersama sang ayah pergi ke Betawi menjumpai Gubernur Jendral Baron van der Capellen. Saat itu, ia sempat menonton “Komidi Holanda” di “Schouwbrurg” (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Tahun 1826, bersama sang ayah ia berniaga ke pulau Jawa dan sempat bertemu dengan Residen Jepara D.W. Punket van Haak. Sekitar tahun 1827, Raja Ali Haji bersama ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kemudian tinggal di sana selama setahun untuk memperluas pengetahuan agama. Di Mekah, ia sempat belajar beberapa bidang keislaman dan ilmu bahasa Arab pada Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fatani.

Berbekal pengembaraan intelektual dan pengalaman yang telah dilaluinya, Raja Ali Haji tumbuh menjadi pemuda berwawasan luas. Meskipun usianya masih muda, ia sudah dikenal sebagai seorang ulama yang seringkali diminta fatwanya oleh pihak kerajaan. Pada tahun 1845, Raja Ali bin Raja Jafar diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda Riau Ke-VIII, dan Raja Ali Haji dikukuhkan sebagai penasehat keagamaan negara. Pada tahun 1858, Yang Dipertuan Muda Riau ke-IX, Raja Abdullah Mursyid mangkat, maka Raja Ali Haji diberi amanat untuk mengambil alih segala urusan hukum yaitu semua urusan yang menyangkut jurisprudensi Islam. Meskipun ia memiliki posisi penting di pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, hal itu tak membuat produktivitasnya dalam menulis menjadi surut.

Begitu piawainya ia menulis dan merangkai kata-kata, sehingga hasil karyanya meliputi berbagai bidang bahasan, seperti keagamaan, kesusastraan Melayu, politik, sejarah, filsafat, dan juga hukum. Lewat karya-karya tersebut, Raja Ali Haji membuktikan dirinya tidak hanya sekadar sejarawan, tapi juga seorang ulama, pujangga, dan sastrawan yang memiliki komitmen memelihara nilai keislaman serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Ia dikenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat karyanya Pengetahuan Bahasa yang menjadi standar bahasa Melayu yang kemudian dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia juga dikenal sebagai sejarawan lewat karya monumentalnya berjudul Tuhfat al-Nafis, dan sebagai sastrawan lewat karyanya Gurindam Duabelas.

Raja Ali Haji wafat pada tahun 1873 dan dimakamkan di Pulau Penyengat, tepatnya di kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamida. Untuk melestarikan karya-karyanya, pada awal tahun 1890, segenap sanak keluarganya mendirikan perkumpulan bernama Rusdyiah Club yang bergerak di bidang pembinaan umat serta penerbitan buku-buku Islami.

2. Pemikiran/Pengaruh

Sebagai sosok ulama dan kalangan elit kerajaan, pemikiran Raja Ali Haji lebih banyak berkisar pada upaya restorasi kerajaan dan tradisi Melayu pada masa itu. Pemikiran tersebut, sebagian besar tertuang dalam berbagai karyanya. Dalam Tuhfat al-Nafis, disebutkan bahwa suasana Melayu telah memasuki masa modern dan kolonialisme, dimana masyarakat Melayu tengah menghadapi perubahan-perubahan di bidang sosial dan budaya. Maka Raja Ali Haji tampil sebagai seorang askar kerajaan untuk menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya Melayu. Pemikiran Raja Ali Haji dinyatakan melalui himbauan moral yang ditujukan kepada elit kerajaan yang berkuasa, agar melaksanakan kekuasaan mereka berdasarkan nilai dan norma islami.

Dalam Tsamarat al-Muhimmah, Raja Ali Haji juga menegaskan bahwa prasyarat untuk menjadi seorang raja dan elit kekuasaan, yaitu: harus beriman, cakap, adil, bijaksana, serta syarat-syarat lain yang menjadi kriteria konsep penguasa ideal. Baginya, kerajaan merupakan sistem politik yang tepat untuk membangun masyarakat Melayu. Oleh karena itu, kedudukan raja sangat penting dalam pembentukan kehidupan sosial-keagamaan kerajaan dan masyarakat. Bahkan pada salah satu pembahasannya, ia mengetengahkan kritik pedas terhadap perilaku politik raja-raja Melayu yang dinilai telah menyimpang dari nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, ia menunjuk pada konflik politik antara Sultan Mahmud dan Raja Indra Bungsu, yang berujung pada terjadinya kerusuhan pada tahun 1787. Menurut Raja Ali Haji, kasus ini merupakan bukti bahwa ajaran Islam, khususnya pengendalian hawa nafsu, telah terabaikan dalam kehidupan politik raja-raja Melayu. Dalam pemikiran-pemikiran yang dilontarkan, Raja Ali Haji berusaha membangun kembali supremasi politik kerajaan Melayu sebagai satu bangunan sosial-politik bagi masyarakat Melayu.

Pemikiran Raja Ali Haji tersebut banyak berpengaruh pada masyarakat Melayu, khususnya para seniman dan budayawan di daerah Sumatera, Jawa, Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan sampai ke Belanda.

3. Karya-karya

Sebagai sosok ulama, pujangga, sejarawan dan budayawan, Raja Ali Haji telah banyak melahirkan karya berupa naskah dan cetakan dalam huruf Arab, antara lain:

· Bustan al-Katibin Li al-Subyan al-Mutaallimin, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat, (tahun 1983)

· Kitab Pengetahuan Bahasa, diterbitkan oleh Al-Mathba at Al-Ahmadiyah/Al-Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1345 AH).

· Syiar Hoekoem Nikah,

· Syair Siti Shianah Shahib al-Ulum wa al-Amanah, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat (tahun 1983).

· Gurindam Dua Belas dan terjemahannya dalam bahasa Belanda oleh E. Netscher De Twaalf Spreukgedichten, diterbitkan oleh Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap II, Batavia (tahun 1854).

· Muqaddimah Fi Intizam al-Wazaif al-Mulk, diterbitkan oleh Pejabat Kerajaan Lingga (tahun 1304 AH).

· Tsamarat al-Muhimmah, diterbitkan oleh Pejabat Kerajaan Lingga (tahun 1304 AH).

· Sinar Gemala Mestika Alam, diterbitkan oleh Mathba at Al-Riauwiyah, Pulau Penyengat (tahun 1313 AH).

· Silsilah Melayu dan Bugis, diterbitkan oleh Al-Imam, Singapura (tahun 1911).

· Suluh Pegawai, diterbitkan oleh Mathba at Al-Ahmadiah, Singapura (tahun 1342 AH).

· Siti Shianah, diterbitkan oleh Mahtha at Al-Ahmadiah/Al-Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1923).

· Tuhfat Al-Nafis, diterjemahkan oleh R.O Winstedt dan diterbitkan oleh The Malayan Branch of Royal Asiatic Society, Singapura (tahun 1932).

· Syair Abdul Muluk, Singapura.

Selain karya-karya tersebut di atas, Raja Ali Haji juga memiliki karya yang dicetak dalam huruf Latin, antara lain:

· E. Netscher, De twaalf spreukgedichten; Een Maleisch gedicht door Radja Ali Hasji van Riouw, uitgegeven en van de vertaling en aanteekeningen voorzien, Tijdschbrift voor indische Taal-, Land-en Volkenkunde 2 : 11-32 (tahun 1854).

· Bustanu al-Katibin, diterjemahkan oleh H. Von de Wall, Boekbeoordeling door H von de Wall: Kitab Perkeboenan bagi kanak-kanak jang hendak menoentoet berladjar akan dija, Tjidschrift voor Indische Taal-, Landen Volekenkunde (tahun 1870).

· Tuhfat Al-Nafis, diterjemahkan oleh Encik Munir bin Ali, Malaysian Publication Ltd., Singapura (tahun 1965).

· The Precious Gift (Tuhfat al-Nafis), diterjemahkan oleh Virginia Matheson & Barbara Watson Andaya, Oxford University Press, Kuala Lumpur (tahun 1982).

· Tuhfat Al-Nafis: Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, diterjemahkan oleh Virginia Matheson, Fajar Bakti, Petaling Jaya (tahun 1982).

· Gurindam Dua Belas, dalam Abdul Hadi W.M., Sastra Sufi; Sebuah Antologi, Pustaka Firdaus, Jakarta (tahun 1985).

· Kitab Pengetahuan Bahasa, diterjemahkan oleh R. Hamzah Yunus, Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pekanbaru (tahun 198-1987).

· Syair Abdul Muluk, Balai Poestaka, Batavia, (tanpa tahun).

· Syair Abdul Muluk, diterjemahkan oleh Siti Syamsiar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pekanbaru (tahun 1988-1989).

· Tuhfat al-Nafis, Virginia Matheson Hooker, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur (tahun 1991).

· Syair Suluh Pegawai, Al-Mathba ah al-Ahmadiyah/al-Ahmadiah Press, Singapura (17 Rabiul Awal 1342 AH/1923).

· Penyair dan Tuan Puteri, dalam Berkala Sastra Menyimak, terbitan ketiga 28 April – 28 Juli, Pekanbaru (tahun 1993).

4. Penghargaan

Raja Ali Haji dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional, atas karyanya Kitab Pedoman Bahasa yang ditetapkan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia, dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (10 November 2004). --------------- Informasi lebih lanjut mengenai Raja Ali Haji silakan lawati website www.rajaalihaji.com

Ditulis oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah - Di Artikle Ulama Nusantara

Thursday, September 17, 2020

Raja Haji Abdullah - Yang Dipertuan Muda Riau Ke-9

Raja Haji Abdullah - Yang Dipertuan Muda Riau Ke-9 RAJA Haji Abdullah adalah putera Raja Ja'afar Yamtuan Muda Riau VI. Raja Haji Abdullah termasuk seorang ulama sufi, seorang mursyid dalam Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Mula-mula beliau belajar kepada saudara sepupunya Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad. Setelah itu ke Mekah belajar kepada Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minankabawi, Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Ahmad al-Jabarti, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan lain-lain. Sewaktu beliau pulang ke Riau, dialah yang membawa Syeikh Syihabuddin al-Banjari dan Syeikh Ahmad al-Jabarti datang ke Riau untuk dijadikan guru. Kemudian setelah dia menetap di Riau, Syeikh Ismail Minangkabau datang ke Riau. Raja Haji Abdullah sungguh pun seorang raja, namun menyediakan dirinya sebagai khadam Syeikh Ismail al-Minankabawi, ulama besar yang sudah terkenal di Mekah itu. Sewaktu Syeikh Ismail al-Minankabawi berangkat ke Singapura, dan mungkin ke mana saja Syeikh Ismail pergi, termasuk ke Kedah, Raja Haji Abullah ikut serta kerana mengharapkan limpah barakah pancaran ilmu sufi yang demikian tinggi yang ada pada peribadi Syeikh Ismail al-Minankabawi itu. Raja Haji Abdullah digelar juga dengan Haji Muda. Selain itu sebagai gelar tertinggi bagi penganut thariqat beliau disebut sebagai Marhum Mursyid. Gelar ini setelah baginda mangkat. Sebenarnya gelar itu memang sesuai untuknya kerana baginda adalah putera Riau yang diakui oleh gurunya Syeikh Ismail Minangkabau sebagai Khalifah Mursyid yang boleh mentawajjuh dan membai'ah para ikhwan Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah itu, apabila Syeikh Ismail Minangkabau tidak berada di Riau. Setelah saudaranya Raja Ali bin Raja Ja'afar mangkat, Raja Haji Abdullah menggantikan saudaranya sebagai Yamtuan Muda Riau-Lingga ke IX. Walaupun Raja Haji Abdullah sebagai penguasa tertinggi kerajaan Riau-Lingga, namun baginda tetap sebagai seorang tokoh ahli sufi yang melakukan ibadah dengan rutin sebagaimana disebut oleh Raja Ali Haji, ``Maka di dalam hal itu, maka ia pun duduk di dalam berbuat ibadat juga dengan segala sanak-sanak saudaranya serta menjalankan ibadat Thariqat Naqsyabandiyah itu. Maka tiadalah berhenti khatam dan tawajjuhnya pada tiap-tiap malam Selasa dan hari Jumaat serta menderas ilmu di balainya, iaitu Raja Haji Ali mengajar-ngajar serta membaca kitab-kitab akan segala sanak-sanak saudaranya serta pegawai-pegawai negeri. Ada pun kitab yang dibacanya itu kitab fikah: sah, batal, halal, haram ...'' Berambisi Raja Haji Abdullah bukanlah seorang yang berambisi atau hubbud dun-ya atau hubbul jah, bahawa baginda berkehendak jadi Yamtuan Muda Riau-Lingga itu, tetapi adalah sebaliknya, pangkat yang disandangnya hanyalah berupa anugerah Allah jua adanya. Ini dapat dibuktikan daripada kata-katanya, ``Saya ini, apabila setahun di dalam pekerjaan raja ini, saya hendak berhenti, jika dikehendaki oleh goverment, adalah ganti saya anak saya Muhammad Yusuf.'' Perkataan tersebut seakan-akan sindiran bahawa seolah-olah baginda tahu daripada pandangan kasyaf, umurnya tidak akan berapa lama lagi, baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini. Selanjutnya baginda mengatakan, ``Ada pun anak-anak sulbi saya tiadalah yang kebetulan kepada hati saya, yang saya hendak pindah ke Bentan, atau mana-mana tempat yang sunyi membuat ibadat.'' Adapun Raja Muhammad Yusuf di atas bukan puteranya tetapi adalah anak saudaranya. Puteranya ketika itu sedang belajar di Mekah namanya Raja Haji Muhammad atau digelar juga dengan Tengku Nong. Raja Haji Muhammad/Tengku Nong itu merupakan orang ketiga mengadakan konteks dengan alim-ulama di Mekah sesudah Raja Haji Ahmad bin Raja Haji dan Raja Haji Abdullah. Raja Haji Abdullah Yamtuan Muda Riau ke IX jatuh sakit tumbuh bisul di belakangnya. Penyakit itu mengakibatkan ajalnya. Sebagaimana saudaranya Raja Ali ketika akan mangkat dulu sempat berwasiat dan wafat dalam kalimah zikrullah, maka Raja Haji Abdullah yang tinggi pengetahuan sufiyahnya tentu lebih daripada itu adanya. Baginda juga memanggil sanak saudaranya terutama Raja Ali Haji. Baginda juga sempat meninggalkan wasiat. Raja Ali Haji menulis, ``Maka hampirlah wafatnya, maka ia pun memanggil kekandanya Raja Ali Haji dekat-dekat dia, ia minta riba (pangku, pen:) kepalanya. Maka ia pun bercakap perlahan-lahan pada pekerjaan barzakh, iaitu ba'dal maut, serta beringat-ingatan ilmu, fatwa segala Masyaikh Ahli Thariqat...'' Kemudian ia pun minta tasbihnya diunjukkan isterinya sambil menangis, kemudian bertanya pula ia kepada Raja Ali, ``Pukul berapa ini?''. Kata Raja Ali, ``Hampir pukul sebelas!'' Katanya, ``Uzurkah tuan hari ini? Tiada usahlah sembahyang Jumaat dahulu, ditinggalkan saja!''. Jawab Raja Ali, ``Baiklah !'' Seketika lagi ia pun berkata, ``Sesak dada!'' Sekira-kira sampai pukul dua setengah istighfarlah ia di dalam zikir nafi itsbat zal Haq, zikir ismuz Zat. Seketika, rohnya pun berpindah dari negeri fana' ke negeri yang baqa'. Surat wasiatnya diserahkan kepada Raja Ali Haji sementara menunggu puteranya Raja Muhammad/Tengku Nong pulang dari Mekah. Ada pun wasiat itu tulisan tangan dengan huruf Melayu/ Jawi atas kertas lebar dengan khat indah sebagai yang berikut, ``Tarikh as-Sanah 1276, kepada 26 hari bulan Zulhijjah, hari Sabtu, bahawasanya kita Raja al-Haji Abdullah Yang Di Pertuan Muda membuat suatu surat wasiat ini bagi anak-anaknya. Dan pada ketika tarikh ini juga yang aku telah memberikan kepada anakku Maimunah, dan Puteri, dan Muhammad bin Abdullah dan Muhammad Thahir, daripada segala harta bendaku, yang aku tiada mempunyai sesuatu jua, tetapi selagi aku hidup ini seperti orang meminjam jua kepada anakku yang empat orang itu. Dan tiadalah boleh seseorang saudaranya mendakwakan dia adanya. Fasal Yang Pertama: Adapun rumah dengan sampah sarapnya hak bagi Maimunah dan si Puteri. Adapun segala senjata besar-kecil hak bagi Muhammad. Syahdan dari kebun seperti Pulau Soreh pulang kepada Muhammad bin Abdullah. Dan perahu, sampan, jongkong mana-mana yang ada itu pulang kepada Muhammad bin Abdullah juga. Sebermula jika aku pulang ke rahmatullah Ta'ala, Muhammad bin Abdullah itulah jadi kuasa, dan memerintah, dan memeliharakan segala saudaranya tiada boleh anak-anakku yang lainnya, melainkan dia yang terlebih kuasa daripadanya. Fasal Yang Kedua: Apabila sudah sampai ajalku, segala hutang aku Muhammad bin Abdullah membayarnya serta mufakat ia dengan ibunya Raja Hawi. Maka jika sudah sampai akil baligh Muhammad Thahir, jika tiada ibunya hendaklah ia mufakat dengan dia pada menyelesaikan hutang-hutang aku itu. Jikalau aku tiada terikhtiarkan yang demikian itu mufakatlah engkau kepada siapa yang menggantikan aku adanya. Fasal Yang Ketiga: Mana-mana hutangku yang kena kepada pekerjaan kerajaan, maka iaitu Raja Mudalah yang membayarnya, seperti hutang perang atau kerana sesuatu yang lain yang hendak membaiki negeri dan belanja ``mashalihul muslimin''. Jika dengan sebab itu lazimlah Raja Muda itu membayarnya. Demikianlah adatnya selama-lamanya pusaka kita Upu Bugis. Sathar Fasal Yang Keempat: Jangan aku ditanam seperti raja-raja, tanamlah aku seperti menanam seorang fakir. Dan jangan aku dimandikan ramai-ramai. Taruh aku di dalam satu sathar dengan dua tiga orang yang saleh. Hawilah memandikan aku, dan janganlah aku diriba. Letakkan sahaja aku di atas suatu tempat yang suci atau di atas sarir yang terus airnya. Mandikanlah aku seperti barang yang telah disebutkan kaifiatnya di dalam kitab fikah. Dan lagi jangan engkau semua yang hidup sepeninggalan aku bersusah-susah belanja tajhiz aku. Jikalau hendak juga engkau semua mentahlilkan aku suruhlah tahlilkan dengan khalifah syeikh kita. Dan boleh engkau beri sedekah ala kadar kifayahnya. Dan jangan sekali-kali menyakit diri yang di luar syariat Rasulullah s.a.w. Hendak engkau semua turut akan jalan yang sebenarnya. Dan haji dan umrah semua selesai tiada lagi menyusahkan adanya. Adapun senjata besar kecil pulang kepada Muhammad Thahir semuanya. Fasal Yang Kelima: Sesiapa yang menggantikan aku hendaklah engkau semua turut perintahnya. Dan jangan engkau dengki hasad kepadanya, tiada selamat. Dan engkau semua kerjakanlah dia dengan cuci putih hati kepadanya, inilah jalan orang yang baik-baik. Apa yang ada sampah sarap yang aku tinggalkan kepada kamu, jikalau Raja Muda itu berkehendak jangan sekali-kali ditahan adanya. Fasal Yang Keenam: Engkau semua adik beradik jangan sekali menaruh hasad dan dengki sesama sendiri. Dan jangan bercerai engkau semua dari jalan mufakat dengan saudara-saudaramu yang lain seperti anak Marhum Abdur Rahman, dan anak marhum Raja Ali kerana adalah Marhum kedua itu saudara syaqiqah, yakni saudaraku seibu sebapa adanya. Fasal Yang Ketujuh: Jangan engkau semua tiada mendengar nasihat ajaran ulama dan shulaha' jika engkau tiada kuasa menuntut kepadanya. Maka jika engkau kuasa menuntut, maka inilah yang sangat gemar dan tuntutku. Kerana tersebut di dalam hadis Nabi s.a.w. Ertinya: ``Menuntut ilmu fardu atas tiap-tiap Islam laki-laki dan Islam perempuan''. Tiada aku panjangkan pada fadilat menuntut ilmu itu melainkan jikalau Allah bukakan hatimu pada menuntut itu ialah yang sebaik-baik jalan dan nikmat yang tiada dapat dibagaikan fid dun-ya wal akhirah. Fasal Yang Kelapan: Sayugianya engkau merendahkan diri kepada pangkat saudara tua atau pangkat bapa kepadamu. Hendaklah engkau ber''patik'' jikalau serupa gara sekalipun umpamanya. Dan engkau dengar juga akan nasihatnya dan segala ajarannya yang patut pada syarak dan adat. Fasal Yang Kesembilan: Pesanku kepada kamu sekalian, hendaklah kamu memuliakan anak cucu Rasulullah s.a.w. apa lagi yang sudah jadi kaum kerabat kita; jangan sekali-kali hasad dengki akan dia, seperti abang ``Embong'' dan abang ``Syeikh Engku'' hendaklah engkau jadikan ia seperti saudaramu yang betul adanya. Fasal yang kesepuluh: Jangan membangsat dan serta rapik pinta meminta kepada segala rakyat raja, inilah pesan datuk nenek moyangku, pantang yang tiada boleh dilalui juga, tiada selamat dunia akhirat kerana banyak daripada beberapa kebinasaan mendatangkan murka Allah Taala Yang Maha Besar. Inilah wasiat yang aku tahshishkan kepada Muhammad Abdullah al-Khalidi. Bermula hendaklah kiranya engkau ingatkan baik-baik sepeninggal aku mati''.

Ditulis oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah - Di Artikle Ulama Nusantara

Sunday, September 6, 2020

Surat Kurnia dan Pemilikan Pulau Batam

WELCOME TO BATAM (SELAMAT DATANG KE BATAM)
Surat Kurnia dan Pemilikan Pulau Batam telah dikeluarkan oleh Seri Paduka Yang DiPertuan Muda Riau dan Lingga, Raja Muhammad Yusuf Ibni Raja Ali pada 29 Rabiul Awal 1308 hijrah bersamaan 11 December 1890 Masihi dan di kurniakan kepada putera putera baginda, Raja Abdullah (Tengku Besar) dan Raja Ali Kelana dan juga kepada saudara pupuan baginda, Raja Muhammad Tahir Bin Raja Haji Abdullah, seperti berikut:-

“Bahawa kita Seri Paduka Yang DiPertuan Muda Riau Dan Lingga serta daerah takluknya, sekelian menyatakan perihal tanah tanah yang di Pulau Batam yang telah jadi kurniaku kepada putera kita Raja Abdullah (Tengku Besar) dan kepada putera kita Raja Ali Kelana dan saudara kita Raja Muhammad Tahir Bin Al Marhum Yang DiPertuan Muda Riau Raja Haji Abdullah Al-Khalid. Dengan surat kita yang termaktub pada 29 haribulan Rabiul Akhir pada hari Rabu 1308 Hijrah, dan pada tanah itu telah semua di ________ Raja Ali dan Raja Muhammad Tahir yang tersebut itu dengan belanjanya dan ketetapan keduanya. Maka pada tarikh daripada ini, kita telah _____ haruslah ia melakukan sebagaimana yang telah kita izinkan itu. Kita kehendaki jika ada orang yang bukan bangsa anak negeri yang hendak ______ berusaha atau menyewa didalam kawasan tanah itu, hendaklah mereka itu dibawa kepada Pemerintah dan berjanji kepada kita sendiri. Adapun daripada segala faedahnya yang masih daripada perjanjian itu dan tiadalah Kerajaan mengambil akan dia hanya tetap jua kurnia dimiliki oleh tiga orang yang tersebut itu atau ahli waris nya adanya.”

Yang DiPertuan Muda Raja Muhammad Yusuf Ibni Raja Ali

Amir Pulau Batam, Tengku Usman Ibni Sultan Abdurrahman.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Petikan daripada Tulisan : Aswandi Syahri
Sumber: Website Pemerintah Kota Batam

“Mengimbangi perkembangan Singapura yang pesat sejak dibuka Inggris pada tahun 1819, pihak kerajaan Riau-Lingga juga mulai membukan pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya untuk berbagai kontrak dan konsesi. Perkembangan ini berhasil memancing sejumlah “penanaman modal asing” dan pengusaha-pengusaha kaya dari Singapura untuk membuka dan melebarkan usahanya ke Pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya.

Disamping membuat kontrak dan membuka konsesi untuk pengusaha dan pemodal asing, Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf juga memberikan kurnia bagian tanah tanah Batam kepada “pengusaha” tempatan yang berasal dari kaum kerabatnya. Sebuah contoh yang amat terkenal adalah kurnia tanah tanah di pulau Batam yang diberikan oleh Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf kepada Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Muhamad Tahir, dan putranya yang bernama Raja Ali Kelana berdasarkan surat kurnia dari Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf tanggal 29 Rabul Akhir 1308 Hijriah yang bersamaan dengan tanggan tanggal 11 atau 12 Desember 1890 Miladiah.
Raja Ali Kelana


Cap Mohor Raja Muhammad Tahir Ibni Almarhum Raja Abdullah, dan tandatangannya selaku Hakim yang tertera didalam surat Mahkamah Riau Pulau Penyengat bertarikh 1hb Jumada Al-Awal 1313 Hijrah (20hb Oktober 1895)

Surat Kurnia dan Pemilikan Pulau Batam yang telah di alih bahasa kepada bahasa Inggris oleh Mahkamah di Singapura pada tahun 1987. Surat asli nya di tulis didalam bahasa Melayu tulisan jawi.
 Dalam sebuah surat tanggal 8 Rabiul Awal 1316 Hijriah, bersamaan dengan 26 Juli 1898 Miladiah, “ditegaskan” kembali oleh Raja Muhammad Yusuf bahwasanya diatas tanah tersebut Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir telah membuka usaha dengan menggunakan modal dan usahanya sendiri.
Usaha apa yang dibuat oleh Raja Ali kelana dan Raja Muhammad Tahir di atas tanah kurnia tersebut? Apakah pada tanah yang dijelaskan pada dua surat tersebut sebuah pabrik batu bata yang kemudian menjadi milik Raja Ali Kelana didirikan? Belum ada bahan sumber yang dapat menjelaskan hal ini. Satu hal yang pasti, Song Ong Siang dalam sebuah bukunya menyebut seorang pengusaha Cina dari Singapura bernama Sam Ong Leong sebagai pemilik sebuah pabrik batu bata di pulau Batam. Apakah pabrik ini didirikan diatas atas tanah yang disewa Sam Ong Leong dari Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir? Satu hal yang pasti, terdapat sebuah pabrik batu bata dengan nama Batam Brick Works di Batu Haji pulau Batam, terkenal dengan merek BATAM dan mempunyai kantor pusat di Singapura.

Bahan sumber informasi terbaru tentang pabrik yang berlokasi di Batu Haji ini menyebutkan bahwa, “…pabrik batu bata Batam Brick Works telah lama berdiri, namun pendirinya tak mampu membuat sebarang keberhasilan. Setelah mengalami beberapa kali perubahan, akhirnya kepemilikan atas pabrik itu dibeli ole Raja Ali Kelana pada tahun 1896 [ “...The Batam Brick Works have been established for many years, but the founder was unable to make the business a sucess, and, after passing through many vicissitudes, the undertaking was purchased by Raja Alie the present owner, in 1896...”]
Dari siapa Raja Ali Kelana beli pabrik ini? Sulit untuk menjawab hal ini karena ketiadaan sumber yang dapat menerangkannya. Namun yang jelas, di tangan Raja Ali Kelana, pabrik penghasil batu bata dengan merek “BATAM” yang hampir bangkrut ini, berhasil bangkit sehingga mampu menghasilkan 30.000 batu bata dalam sehari dan bahkan mampu mengangkat nama Batam sebagai penghasil batu bata yang bermutu di kawasan Selat Melaka.

Perkembangan pabrik batu bata Batam Brick Works semakin pesat setelah nama perusahaan yang berkantor pusat di Singapura ini muncul dalam Singapore Straits and Directory pada tahun 1901. Sejak saat itu nama Batam Brick Works semakin terkenal sebagai perusahaan penghasil batu bata bermutu yang terbesar di gugusan Kepulauan Riau-Lingga dan negeri-negeri Selat.
Mutu batu bata produksi Batam Brick Works selalu memenangkan sejumlah pertandingan kualitas dan mutu batu bata di Singapura, Semanjung Melayu, dan kawasan Timur Jauh. Bahkan karena mutu batu batanya, perusahaan ini pernah mendapatkan award (penghargaan) dalam sebuah pameran di Hanoi dan Pulau Pinang pada tahun 1907.

Aktivitas Batam Brick Works dibawah Raja Ali Kelana berakhir ketika ia memutuskan untuk menjual persahaan itu kepada seorang pengusaha Cina di Singapura pemilik Sam Bee Brick Works, satu tahun menjelang pemakzulan Sultan Abdulraman dan Tengku besar kerajaan Riau-Lingga pada tanggal 10 Februari 1911.

Sumber: Website Pemerintah Kota Batam
Tulisan : Aswandi Syahri

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Setelah pemakzulan Sultan Abdulraman dan Tengku besar Umar daripada Kerajaan Riau-Lingga pada 10 Februari 1911, Sultan Abdurrahman, Tengku Besar Umar, Raja Ali Kelana, Raja Khalid Hitam, Raja Muhammad Tahir serta lainnya bersama sama keluarga masing masing telah meninggalkan Riau dan belayar ke Singapura. Sultan Abdurrahman bersama keluarga dan kerabat terdekat Baginda belayar dari Pulau Penyengat keSingapura dengan menaiki kapal Baginda yang bernama ‘Seri Daik’.

Sultan Abdurrahman Muazam Syah, Sultan Riau Lingga terakhir.

Tengku Besar Umar Ibni Sultan Abdurrahman Muazam Syah Riau Lingga
 Semasa Sultan Abdurrahman yang berada di Singapura, baginda telah membuat Kenyataan Akhbar di akhbar Singapura, The Straits Times pada 15 February 1911 mengenai perlucutan jawatan Baginda sebagai Sultan Kerajaan Riau Lingga, yang lakukan secara tidak adil kerana tuduhan yang dibuat oleh pehak Pemerintah Belanda mengenai pakatan Baginda dengan pehak lain yang mahu membangkan serta memerangi Pemerintah Belanda adalah tidak benar. Sultan Abdurrahman juga menyatakan bahawa helah pehak Belanda mahu mencalon cucunda Baginda yang berusia 10 tahun (Tengku Mahmud Bin Tengku Umar) sebagai Sultan, hanyalah satu muslihat untuk membolehkan pihak Pemerintah Belanda menguasai dan memindahkan seluruh kuasa keatas mereka bagi membolehkan mereka menguasi sepenuh nya pendapatan dan keuntungan yang diperolehi daripada cukai, perlombongan dan lain nya milik Kerajaan Riau Lingga.

Sultan Abdurrahman dan para Menteri Baginda seperti Raja Ali Kelana, Raja Khalid Hitam dan lainnya juga merancang di Singapura untuk mendapatkan bantuan daripada Turki dan Jepun untuk mengambil Kerajaan Riau Lingga daripada Pemerintah Belanda. Usaha usaha mengumpul dana pun dilakukan bagi menjayakan rancangan tersebut. Dalam pada itu, Pemerintah Belanda di Riau Lingga Kingdom telah membuat pengumuman untuk memberitahu Sultan Abdurrahman serta kerabat kerabat DiRaja yang berada di Singapura bahawa Pemerintah Belanda akan merampas segala harta harta mereka di Pulau Penyengat dan di Riau Lingga sekiranya mereka tidak kembali dan menguruskan harta harta mereka. Apabila Sultan Abdurrahman mendengar perkara ini, Baginda pun mengarahkan orang orang yang berada di Pulau Penyengat untuk membuka dan memusnahkan Istana Istana dan bangunan bangunan yang lain yang dimiliki oleh Sultan dan keluarga Binda serta kerabat kerabat DiRaja lain nya. Baginda juga mengarahkan menanam tanah tanah yang kosong di Pulau Penyengat – Riau dan di Daik - Lingga, yang mungkin akan dirampas oleh Pemerintah Belanda.

Apabila usaha Sultan Abdurrahman dan lain lain nya untuk mengumpul dana yang mencukupi, mereka pun menghantar Raja Khalid Hitam ke Jepun pada tahun 1911 untuk mendapatkan bantuan daripada Maharaja Jepun. Mereka juga menghantar Raja Ali Kelana ke Turki untuk mendapatkan bantuan daripada Sultan Empayer Othmania. Malangnya kedua dua usaha untuk mendapatkan bantuan daripada Turki dan Jepun itu tidak berjaya. Raja Khalid Hitam yang dihantar ke Jepun pada keli kedua pada tahun 1913, telah mangkat di Jepun sebelum berjaya bertemu dengan Maharaja Jepun. Dipercayai bahawa Raja Khalid Hitam telah mati diracun semasa berada di Jepun. Dengan itu harapan untuk pulang dan mengambil kembali Kerajaan Riau Lingga daripada Pemerintah Belanda menjadi musnah.

Kemudian pada tahun 1913 itu juga, Pemerintah Belanda pun membubarkan Kerajaan Riau Lingga serta sistem pemerintahnya dan menggantikan dengan sistem Pentadbiran Pemerintah Belanda dan mengangkat orang orang Riau yang setia kepada mereka untuk menjadi pegawai pegawai mereka.
Sultan Abdurrahman bersama keluarga serta kerabat kerabat terdekat Baginda terus tinggal di Singapura.

Raja Muhammad Tahir Bin Raja Abdullah mangkat pada tahun 1918.

Raja Ali Kelana dan keluarga nya telah berpindah ke Johor dan telah dilantik sebagai Syaikhul Islam Johor oleh Sultan Ibrahim dan memegang jawatan tersebut selama sekitar 13 years. Raja Ali Kelana mangkat dirumah nya Johor Bahru pada 4 December 1927.

Sultan Abdurrahman yang menetap di Singapura selama sekitar 29 tahun sejak datang dari Riau pada tahun 1911, telah mangkat dirumahnya di Singapura pada 28 December 1930.

Tengku Besar Umar dan keluarga nya telah berpindah ke Terengganu dan telah mangkat di Kuala Terengganu pada tahun 1939.